Tugas 4_ Manusia Makhluk Otonom_MPK Agama Islam

4.1 Nikmat Allah bagi Semua Mahluk Hidup
Pengertian otonom yang terkait dengan keberadaan manusia sebagai makhluk Allah adalah bertalian dengan kebebasan menentukan pilihan.  Manusia, tanpa kecuali, memiliki hak menentukan pilihan di samping diikat oleh kewajiban insani sebagai mahluk Allah yang wajib beribadat. Hak dan kewajiban itu kemudian berkelindan dengan masalah pahala dan dosa: sebuah hukum sebab akibat yang lebih banyak ditentukan oleh amal manusia. 
Manusia dijadikan Allah sebagai khalifah di Bumi.
(Q.S. Al-Baqarah, 02: 30; Al-A’raaf, 07: 129; An-Naml, 27: 62; Faathir, 35: 39; dan Shaaf, 38: 26).
Dalam memikul tanggung jawab dunia, seperti diceritakan dalam Al-Quran, manusia telah siap memikul amanah yang telah ditawarkan oleh Allah swt kepada mahluk lainnya. Ketetapan itu kemudian menjadi pelengkap tanggung jawab tugas khalifah di Bumi. Namun, seperti diungkap Allah swt dalam Al-Quran, manusia itu cenderung banyak lalai, menyepelekan amanat, dan zhalim terhadap mahluk lain dan dirinya (Q.S. Al-Ahzaab, 33: 72) .

4.2 Nikmat Hidup
Allah Swt. yang Rahman adalah Allah Swt yang menganugerahi nikmat hidup makhluk-makhluk ciptaannya, tidak terkecuali manusia. Bahkan nikmat yang diberikan Allah Swt. tidak memandang makhluk siapa yang mentaati atau mengingkari perintah-Nya (Q.S. Huud, 11: 6; dan Al-’Ankabuut, 29: 60). Nikmat yang diberikan Allaht Swt. kepada manusia sebenarnya merupakan nikmat yang spesial, karena selain diberikan nikmat hidup, manusia juga diberikan kelebihan lainnya yang berbeda dengan hewan dan tumbuhan. Allah Swt. juga selipkan rasa kasih sayang kepada makhluk-Nya dan antar makhluk ciptaan-Nya. Nikmat dasar yang diberikan Allah Swt. menjadi berubah kondisinya hanya karena ulah manusia. Hal ini sejalan dengan beban tugas manusia yang diberikan kelebihan sekaligus tantangan sebagai penikmat juga perusak bumi. Hanya ibadat dan amal yang mampu menjaga manusia dari sifat keserakahan dan nafsu semata.

4.3 Nikmat Akal
Allah memberi akal sebagai alat pengendalian diri, alat pengembangan diri, atau alat berpikir yang bisa digunakan untuk mengubah diri, menentukan pilihan.Hanya manusia yang diberi nikmat akal. Oleh karena itu, manusia diserahi tugas mengelola Bumi, sebagai khalifah fil-Ardh. Dengan akalnya, manusia bisa mengelola Dunia, berbudaya. Allah tidak membeda-bedakan manusia yang beriman maupun kufur, semuanya diberi kenikmatan akal. 

4.4 Nikmat Hidayah
Allah menganugerahkan nikmat hidayah hanya bagi manusia tertentu (terpilih) saja. Sejalan dengan posisi manusia sebagai mahluk otonom, yang telah diberi kebebasan untuk memilih kecenderungan fujur atau taqwa, maka tidak semua manusia mengambil pilihan yang sama. Ada yang memilih fujur, ada juga yang cenderung kepada taqwa. Padahal, hidayah, yang selama ini diartikan sebagai “sesuatu yang selalu harus dicari”, telah tersedia berbentuk Al-Quran yang sempurna sebagai kumpulan hidayah Allah. Manusia, seperti telah disebutkan terdahulu, adalah khalifah fil Ardh. Allah swt menegaskan bahwa urusan hidayah adalah urusan Allah swt semata. Allahlah yang memiliki hak dalam menetapkan siapan yang akan mendapatkan hidayah dan siapa yang secara pasti (beradasarkan proses) tidak mendapatkan hidayah Allah swt.

4.5 Dua Nikmat Yang Kerap Terlupakan
Nikmat sehat adalah anugerah Allah SWT. Banyak manusia yang lupa diri bahwa sehat itu sangat mahal. Ketika Allah menyiapkan sehat dengan sangat murah, banyak manusia terlena dalam kondisi nyamannya, dan manusia lupa bahwa disamping sehat ada sakit yang selalu mengintai. Nikmat lainnya yang kerap dilupakan oleh manusia adalah kenikmatan memiliki waktu senggang. Allah SWT menuntut manusia untuk beribadat mahdhah dengan waktu yang sangan sedikit. Manusia cukup leluasa untuk memanfaatkan waktunya dalam banyak kegiatan di luar ibadah mahdhah.

4.6 Manusia Makhluk Individu
Sebagai makhluk sosial, manusia juga dapat dikatakan sebagai makhluk individu. Hal ini tergambar dari sifat-sifat manusia yang berbeda, sekalipun memiliki kemiripan secara fisik. Gambaran individu yang dimiliki manusia diciptakan Allah Swt. dengan tujuan keunikan. Keunikan ini dilengkapi Allah dengan perangkat lainnya untuk membiarkan manusia dapat berkembang sejalan dengan fungsi kekhalifahannya. Semua proses tersebut tentu juga didampingi oleh aneka aturan untuk kemaslahatan hidup manusia.

4.7 Konsep Dosa (Individu) Dalam Islam
Sebagai mahluk individu, sejak awal kelahirannya manusia terlepas dari ikatan dosa siapapun. Seorang bayi yang lahir, sekalipun lahir dari seorang ibu yang tidak memiliki ikatan suami-istri yang syah, bayi tersebut tetap berada dalam kondisi yang fitrah, suci. Tidak dikenal istilah anak “haram-jadah”. Yang “haram-jadah” adalah orang tuanya. Jika Allah tidak menghendaki, siapapun tak akan bisa melebihi kemahakuasaan Allah yang mutlak. Ketika seseorang terkait dengan dosa orang lain, kondisi itu sudah pasti adalah ketika orang tersebut harus mempertanggungjawabkan hasil perbuatannya yang dampaknya juga kena kepada oran lain. Oleh karena itu, setiap manusia harus mempertanggungjawabkan hasil usahanya masing-masing.