Tugas Latihan 1_ BAB 1 PENDAHULUAN ( Kebenaran Mutlak dan Kebenaran Sementara )_ MPK Agama Islam
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Kebenaran Mutlak dan Kebenaran Sementara
Kebenaran banyak jenis dan ruang lingkupnya. Nilai kebenaran dipandang terikat ruang dan waktu. Begitu banyak orang yang memiliki dan memegang nilai-nilai kebenaran, tetapi belum tentu nilai kebenaran tersebut berada pada ruang dan waktu yang cocok bagi semua orang. Semua ruang dan waktu memiliki nilai kebenaran sendiri-sendiri, sekalipun hanya didukung oleh segelintir masyarakat, sebagai nilai kebenaran hakiki yang patut dihargai keberadaannya. Nilai kebenaran, seperti yang didengungkan para penganut teori cultural studies,adalah kebenaran sesaat dan selingkung. Nilai- nilai yang terikat waktu dan tempat, tentu sangat kondisional. Tidak ada kebenran tunggal dan tidak ada kebenaran mutlak. Masing- masing lingkup kebenaran bisa saling bersebarangan, bertentangan, bahkan saling menjatuhkan. Sesuatu yang mutlak tetap tidak berubah, qat'i pasti dianggap terlalu mapan atau statis, tidak sejalan dengan kebutuhan zaman. Teori modernis yang mengagunggkan aneka perubahan terus-menerus sejalan dengan pola pengubahan benda masinal. Perubahan adalah jiwa para modernis. Nilai kebenaran yang bersifat ilmiah sangat mutlak. Kemutlakan itu mengindikasikan sesuatu yang tetap, tidak akan berubah bahkan sama sekali steril dari kemungkinan tafsir. Tafsir yang empiris ilmiah sekalipun, dalam menimbang nilai kebenaran, islam mengenal tiga tingkatan proses pemahaman. Yaitu nilai kebenaran yang disebut 'ilmuyaqiin ( kebenaran yang didukung oleh pengetahuan teori), 'ainulyaqiin ( kebenaran yang dilengkapi dengan hasil pembuktian empiris dalam aneka penelitian kasat mata), dan 'haqqulyaqiin (kebenaran imaniah, tingkat kebenaran tinggi yang di iringi dengan kepasrahan atas pemilik kebenaran yang mutlak).Allah menentukan aneka kebenaran terkait dengan berbagai hukum yang harus dijalani dan dipatuhi manusia. Jika segala hukum Allah tidak ada yang mutlak kebenarannya, akan terjadi kekacauan yang sangat dasyat. Jika nilai kebenaran itu berubah mengikuti zaman, memenuhi tuntunan tempat yang didukung oleh budaya tertentu, begitupun terkait dengan huku-hukun Allah. Semua yang terjadi di alam ini mengikuti ketentuan pasti (qadr) Allah. Sehingga istilah hukum alam akan mengacu pada tata aturan yang lengkap,sempurna dan teratur. Pada dasarnya adalah kebenaran mutlak dari yang mah kuasa . Ketentuan pasti ini adalah ketentuan umum yang tidak bisa diubah oleh siapapun kecuali hanya oleh Allah. Itulah sunnatullah, ketentuan dari Allah. Tataran kebenaran mutlak sangat luas dan sudah pasti universal. Dalam tataran kebenaran ilmiah, tak ada satupun yang dikategorikan sebagai kebenaran yang mutlak. Satu kebenaran hasil temuan ilmiah adalah kebenaran temporer yang secara berkala akan digantikan oleh jenis kebenaran temuan lainnya yang lebih baru. Teri demi teori saling mengganti posisi sebagai bentuk kebenaran sementara yang dipercaya oleh sebagian orang. Nilai empris menjadi aturan main utama dalam kegiatan ilmiah. Keempirisan kegiatan ilmiah, jika diposisikan pada tiga tahapan keyakinan tentang kebenaran tentang kebenaran yang telah dibahas terdahulu, baru berada pada tahapan 'ilmulyaqiin. Jika peneliti memiliki nilai-nilai keimanan, tahapan keyakinan ketiga akan bisa di capai setelah melalui dua tahapan keyakinan tadi. Kesadaran bahwa ilmu manusia serba terbatas, kesadaran bahwa ada pemilik ilmu yang maha kaya, kesadaran bahwa manusia hanyalah pengolah ilmu, bukan pemilik ilmu kesadaran bahwa ilmu bukan monopoli golongan orang tertentu dan sejenisnya.
1.2 Keterbatasan Ilmu Pengetahuan
Allah memberi kebebasan menentukan pilihan (kafuuraa atau syakuuraa, mengikuti fujur ataupun menetapkan memilih taqwa) kepada semua manusia. Tetapi, kepada mahluk lain selain manusia dan jin, Allah menetapkan ketetapan yang pasti, ketetapan yang tidak bisa diubah. “Hukum yang ada di alam” adalah ketetapan Allah tersebut. Ditetapkan dalam kondisi dan posisi yang teratur. Semua planet mengikuti pola yang tetap dalam garis rotasinya (Q.S. Yasin, 36: 37 - 40). Ketika Allah mengajari manusia tentang segala ilmu pengetahuan yang telah disebar nya dalam kuantitas yang sangat sedikit ( Q.S : Al-Israa, 17: 85), ilmu itu disebarkan seperti serbuk bunga yang dibawa angin. Oleh karena itu, Allah menetapkan, siapapun bisa mengakses serbuk ilmu itu dan menempelkannya dalam putik bunga pikiran tanpa
batas kelompok sosial, bangsa, negara, ataupun keimanan. Ilmu Allah adalah ilmu yang open source, yang bisa dimanfaatkan oleh siapapun yang memiliki semangat pencarian tinggi dan istiqamah. Keunggulan manusia, seperti yang dicontohkan dalam peristiwa
Nabi Adam dengan Iblis dan Malaikat, adalah pengetahuannya tentang segala yang ada di alam. Manusia telah dipercaya menjadi khalifah di atas Bumi,
sebagai bukti keunggulan tadi, di samping keunggulan yang melengkapinya yaitu dalam bentuk kesempurnaan penciptaan (Q.S. At-Tiin, 95: 04).
لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ فِىۡۤ اَحۡسَنِ تَقۡوِيۡمٍ
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (Q.S. At-Tiin, 95: 04).
Hanya manusia yang berkembang lengkap dengan tatanan budayanya. Melalui aneka penelitian dan pencarian, manusia menyusur jawaban atas rasa ingin tahunya tentang segala sesuatu.Allah juga mencatat
keberhasilan sekaligus kejumawaan manusia beserta akibat yang diperolehnya pada berbagai periode zaman. Allah sengaja menyisakan catatan keberhasilan manusia sebagai bukti kesejarahan sekaligus sebagai salah satu tanda bukti kebesaran Allah bagi generasi manusia zaman lainnya. Sekalipun manusia memiliki kebebasan melakukan eksperimen, ada batas-batas aturan tertentu yang harus dipatuhi. Di antaranya, batasan etika keilmuan dan terutama nilai keimanan. Batas-batas itu menjadi penting sejalan dengan keterbatasan manusia sendiri. Tantangan Allah kepada kelompok manusia dan jin sangat tegas dalam surat Ar-Rahman, 55: 33.
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ
“Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka
lintasilah. Kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan” (Q.S. Ar-Rahmaan, 55: 33).
Allah memberi kesempatan kepada para peneliti untuk melakukan proses clonning. Terbukti, domba dan kucing yang dilaporkan sebagai hasil kloning itu telah lama lahir.
Bahkan jauh sebelum hasil kloning jenis binatang tersebut, dikabarkan telah begitu banyak tumbuhan dengan jenis baru hasil kloning. Dalam deretan Kepulauan Nusantara, ada Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, Papua, dan Kalimantan, yang ukurannya lebih luas daripada Pulau Bali yang kecil saja. Nusantara
juga merupakan satu bagian kecil dari Benua Asia. Masih ada bagian lain yang membentang di permukaan Bumi, yaitu benua lain, seperti Amerika, Eropa, Afrika, dan Australia. Semua benua itu berisi manusia yang sangat banyak sebagai pemakmur Bumi. Dalam teori Hubble yang populer, disebutkan bahwa alam ini terus berkembang dalam ledakan-ledakan yang besar (Big Bang). Di dalam Al-Quran hal itu telah dinyatakan dengan sebutan kunci: dihamparkan, “semakin meluas”(?). Di antara benda-benda angkasa yang telah dikenal oleh manusia, matahari adalah salah satu di antara bintang-
bintang yang memiliki cahaya sendiri, sama seperti bintang-bintang lainnya yang bertebaran di angkasa raya. Jika setiap matahari (bintang) memiliki planet-planet yang mirip dalam gugusan Bima Sakti, betapa alam Allah sangat luas. Allah menciptakan semua itu sangat bermanfaat, tidak sia-sia! (Q.S. Ali ‘Imraan, 4: 190-191). Manusia belum bisa, atau bahkan tidak akan bisa, memanfaatkan semua hasil ciptaan Allah. Hal itu sejalan dengan pernyataan Allah dalam Quran Surat Al-Isra, 17:
85. Sekalipun ayat tersebut terkait dengan keberadaan ruh, tapi banyak penafsir yang mengaitkan dengan penyediaan ilmu secara umum oleh Allah untuk manusia.
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (Q.S. Ali ‘Imraan, 03: 190).
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’” (Q.S. Ali ‘Imraan, 03:191).
فَهَزَمُوْهُمْ بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗوَقَتَلَ دَاوٗدُ جَالُوْتَ وَاٰتٰىهُ اللّٰهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهٗ مِمَّا يَشَاۤءُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ اللّٰهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ الْاَرْضُ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ ذُوْ فَضْلٍ عَلَى الْعٰلَمِيْنَ
“Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah, (sesudah
meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam (Q.S. Al-Baqarah, 02: 251).
تَبٰرَكَ الَّذِيْ نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلٰى عَبْدِهٖ لِيَكُوْنَ لِلْعٰلَمِيْنَ نَذِيْرًا ۙۙ
“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al qur-an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (Q.S. Al-Furqaan, 25: 01).
Perhatikan salah satu peringatan dari Allah yang menegaskan tentang ketidakpantasan manusia kufur kepada keberadaan Allah. Gambaran tentang Penguasa Alam, Pencipta Alam, Pemelihara Alam, selalu di-ulang-ulang sebagai bentuk latihan penkondisian tentang kesadaran pemosisian diri sebagai mahluk dibanding dengan Khlaik, Yang Menciptakan.
قُلْ اَىِٕنَّكُمْ لَتَكْفُرُوْنَ بِالَّذِيْ خَلَقَ الْاَرْضَ فِيْ يَوْمَيْنِ وَتَجْعَلُوْنَ لَهٗٓ اَنْدَادًا ۗذٰلِكَ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ۚ
“Katakanlah: ‘Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang Menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam’.” (Q.S. Fushshilat, 41: 09).
1.3 Proses Berpikir Ilmiah
Dalam bahasan keilmuan, dikenal bahwa kaidah ilmu ditegakkan oleh orde (tatanan yang tertaur), determinisme (sebab, pendahulu), parsimoni (kesederhanaan dalam penjelasan dan mencakup lebih banyak fenomena), dan empirisme (menunjukkan kepercayaan pada observasi dan eksperimen). Oleh karena itu, penemuan ilmiah, teori ilmiah, bisa ditelusuri
dan dikaji ulang, diuji ulang, melalui jalan yang sama oleh ilmuwan yang berbeda (Rakhmat, 1989: 1-13).Ketika Charles Darwin membangun teori tentang The Universe, yang kemudian begitu banyak orang di dunia ilmu pengetahuan, lebih khusus bidang kajian biologi, percaya
betul cerita tentang evolusi bentuk tubuh manusia yang berasal dari sejenis binatang primata. Salah satu simpulan hasil kajian Darwin yang diterima mentah-mentah oleh banyak ilmuwan waktu itu, adalah bahwa manusia-manusia masa kini merupakan hasil malih rupa dari wujud monyet, secara evolutif, menjadi manusia sesungguhnya. Waktu itu, tidak ada yang penasaran, apakah proses evolusi itu berhenti pada bentuk manusia
masa kini? Darwin tidak mampu menunjukkan bukti tesisnya. Dia berlindung dalam dinding kokoh yang dia bangun, yang disebut the missing link. Hingga kini, link (mata rantai) yang missing (hilang) itu tidak pernah ditemukan, karena memang tidak pernah ada, tidak pernah menjadi bukti empiris (kebanggaan sebagai ukuran kebenaran yang dipegang teguh oleh para ilmuwan) kebenaran teori Darwin. Proses berpikir ilmiah didahului oleh aneka bentuk keraguan, ketidakpercayaan,
keheranan, keingintahuan, yang dilanjutkan dengan kegiatan menyusun rancangan kegiatan pencarian jawaban atas segala keingintahuan itu. Melalui kegiatan penelitian, eksplorasi, eksperimentasi, manusia menguji hipotesisnya untuk merumuskan simpulan berupa jawaban atas aneka pertanyaan yang diajukan. Prinsip utamanya, kegiatan ilmiah selalu dimulai dengan ketidakpercayaan. Ketidakpercayaan dan empirisme menjadi kunci kegiatan ilmiah yang dipercaya sebagai tonggak awal kegiatan. Sementara itu, proses berpikir ilmiah berbeda dengan proses berkeimanan, yang harus didasari oleh kondisi kesiapan menerima apa yang telah ditetapkan oleh Yang Mahakuasa. Di dalam proses berkeimanan, ada yang bisa dibuktikan secara ilmiah, ada juga yang pembuktiannya bertalian dengan waktu tunggu pengujian nilai keimanan manusia tentang kebenaran yang hak, haqqulyaqin.
1.4 Proses Berkeimanan
Dalam proses berkeimanan, tampaknya, seseorang harus lebih banyak menggunakan bentuk pembuktian terbalik. Hudan, petunjuk, ilmu, referensi, telah disediakan oleh Allah yang menguasi kebenaran yang mutlak. Referensi yang telah tersusun dalam bentuk kitab suci Al-Quran, adalah sumber kebenaran dalam tataran ilmulyaqiin dan sebagian di antara penjelasannya bisa mengantarkan manusia ke dalam tataran ainulyaqiin. Bahkan, bagi
sekelompok orang tertentu yang terpilih, penjelasan-penjelasan itu sudah cukup menjadi jalan yang mengantarkan mereka ke dalam tataran haqqulyaqiin. Keadaan itu, tentu, sangat terkait dengan nilai-nilai keimanan yang telah dimiliki oleh kelompok orang tadi.
Allah menyebutnya sebagai ulul-albaab.Emoto menemukan bahwa air, sesungguhnya, sangat rentan terhadap situasi lingkungan. Air, sebagaimana mahluk Allah lainnya, ketika diberi perlakuan tertentu, ia akan
merespon perlakuan itu sesuai dengan sifat perlakuannya. Ketika air disumpahserapahi dengan kalimat buruk, air tidak bisa membentuk kristal (yang indah). Lain halnya ketika air diperlakukan secara baik, diberi kata-kata indah, tulisan yang baik, suara musik yang tenang, bahkan suara dan kalimat tertulis dalam bentuk do’a, air merespon kondisi lingkungan baik itu dengan bentukan kristal yang amat bagus. Temuan tersebut adalah hasil pencarian Emoto dari berbagai sumber air dari tempat-tempat yang dia kunjungi di
setiap negara. Di samping itu, pencarian Emoto tidak sekadar menggunakan air dari tempat yang berbeda, tetapi juga dengan kondisi treatment yang juga berbeda-beda.Penelitian Emoto sangat rasional. Langkah-langkah kegiatannya sangat empirik. Hasil penelitiannya sangat valid sebagai bentuk bukti bahwa mahluk-mahluk Allah, apapun bentuk dan jenisnya, memiliki hubungan langsung dengan lingkungan, dan bisa merespon apapun yang ada di sekitarnya. Itu adalah salah satu di antara tanda-tanda kemahabesaran Allah. Tetapi, begitu banyak orang yang belum bisa menyadari tentangnya. Dan, hanya sedikit saja yang mampu membaca ayat-ayat kauniyah itu untuk diolah menjadi produk-produk yang mendatangkan maslahat bagi manusia. Satu gambaran bahwa air bersifat merespon lingkungan adalah perilaku teladan Nabi saw yang kerap menggunakan air sebagai syifa, air yang dibacai doa sebagai sarana upaya penyembuhan sakit seseorang. Tubuh manusia dewasa terdiri atas 75% air, yang akan sangat mudah merespon baik-buruk lingkungannya sebagaimana sifat utama air.